Menurutnya, kondisi arus sungai yang saat ini pecah menjadi beberapa arah menyebabkan hantaman air langsung mengenai tebing sungai dan fondasi jembatan.
“Kami akan meluruskan alur sungai terlebih dahulu dan membuat tanggul darurat. Tujuannya agar saat banjir datang, air sudah terarah dan tidak lagi menghantam tebing sungai di sekitar jembatan,” jelasnya.
Untuk mempercepat pekerjaan, BBWS berencana menurunkan alat berat pada akhir pekan ini. Mengingat kondisi medan yang cukup sulit, sebagian peralatan kemungkinan akan masuk melalui jalur sungai.
Selain normalisasi sungai, penguatan struktur jembatan juga akan dilakukan untuk mencegah kerusakan yang lebih besar. Menurut Dwi Agus Kuncoro, kondisi geologi di wilayah tersebut didominasi tanah batulempung yang relatif mudah tererosi oleh arus air.
Karena itu, pihaknya berencana menggunakan teknik riprap atau penataan batu alam untuk melindungi kaki jembatan.
“Normalisasi sungai kita targetkan selesai dalam dua bulan agar arus air stabil. Setelah itu baru kita perkuat pilar-pilar jembatannya. Jembatan ini sebenarnya masih cukup kuat, tapi perlu perlindungan tambahan agar tidak tergerus lagi,” jelasnya.








