“Di saat rakyat berjuang bertahan hidup dan pelaku usaha lokal menjaga napas ekonomi wilayah, forum yang mengklaim membawa aspirasi justru absen dari tengah masyarakat. Ini bukan sekadar ironi, tetapi pengingkaran terhadap makna perjuangan,” katanya.
Lebih lanjut, Hamzaiya mengingatkan bahwa sejarah perubahan sosial di Indonesia selalu digerakkan oleh aktivis-aktivis yang bekerja dalam keterbatasan, tekanan, dan risiko.
Tidak ada perubahan besar yang lahir dari kenyamanan atau rutinitas formal tanpa keberanian politik.
Ia menegaskan, kritik tersebut bukan serangan personal, melainkan peringatan agar FCTM segera melakukan koreksi arah.
Tanpa keberanian melawan arus, keberpihakan yang jelas, dan keterlibatan langsung bersama rakyat, perjuangan pemekaran dikhawatirkan hanya akan menjadi slogan tanpa isi.
“Sejarah akan membedakan mana gerakan sejati dan mana sekadar perkumpulan. Hari ini, FCTM berada di persimpangan: kembali menjadi pergerakan rakyat atau tenggelam sebagai forum yang kehilangan arah,” pungkasnya.








