“Kondisi jalan yang berlubang ini sudah beberapa waktu menjadi perhatian kami. Selain mengganggu aktivitas warga, terutama menuju Mushola Al-Ikhlas, jalan rusak juga membahayakan keselamatan masyarakat yang setiap hari melintas,” ujar Ade Sri Sumartini di sela kegiatan.
Ia menjelaskan, lubang-lubang di jalan bukan hanya sekadar kerusakan fisik, tetapi juga menghambat mobilitas warga dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Tanpa menunggu anggaran atau bantuan yang belum jelas kapan datangnya, warga bersama pemerintah desa memilih berswadaya.
Semen dan pasir dikumpulkan, tenaga dicurahkan. Anak muda, bapak-bapak, hingga ibu-ibu turut terlibat, bergotong royong meratakan jalan yang sebelumnya dipenuhi lubang.
Hasil perbaikan memang sederhana, namun sarat makna. Jalan yang mulai rata menjadi bukti bahwa gotong royong bukan sekadar jargon masa lalu, melainkan nilai hidup yang tetap relevan dan menjadi solusi di tengah keterbatasan anggaran.
“Ini membuktikan bahwa pembangunan desa tidak melulu soal besar kecilnya anggaran, tetapi juga tentang kepedulian dan kebersamaan,” tambah Ade.








