Ketakutan bahwa Desa Ambulu suatu hari akan benar-benar tenggelam bukan lagi sekadar cerita masa depan. Ancaman itu hadir setiap hari, seiring naiknya permukaan air laut yang kian sulit diprediksi.
Selain ritual adat di pesisir, religiusitas warga pun semakin menguat. Di masjid-masjid dan rumah-rumah, doa terus dipanjatkan kepada Allah SWT. Untaian zikir dan munajat menjadi penguat batin bagi warga yang merasa telah kehilangan banyak hal akibat terjangan rob yang tak kunjung usai.
Kuwu Ambulu, Sunaji, mengungkapkan bahwa langkah spiritual yang ditempuh warganya merupakan cerminan kelelahan dan frustrasi yang mendalam.
Ia mengakui bahwa pemerintah desa telah berupaya maksimal, namun keterbatasan kewenangan dan sumber daya membuat persoalan rob belum menemukan solusi permanen.
“Warga sudah lelah. Rob ini datang terus-menerus. Kami dari pemerintah desa sudah melakukan berbagai upaya pembangunan dan koordinasi, tetapi hingga hari ini hasilnya belum mampu menghentikan penderitaan warga,” ujar Sunaji, Rabu (07/01/2026)








