Panitia juga menyelenggarakan Seminar Nasional Risalatul Mahid dalam perspektif medis sebagai bentuk dialog antara khazanah keilmuan pesantren dengan ilmu pengetahuan modern.
Penguatan nilai spiritual dilakukan melalui khataman Al-Qur’an serentak di 113 titik yang melibatkan 686 hafidah di wilayah Kecamatan Pangenan dan lingkungan pesantren.
Selain itu, berbagai kegiatan sosial turut digelar, seperti Gedongan Bersolawat, bahsul masail, bakti sosial, sunatan massal, santunan, layanan servis dan cuci kendaraan gratis, hingga napak tilas dan ziarah akbar jejak perjuangan KH. Muhammad Said.
Dalam refleksi sejarah yang disampaikan panitia, KH. Muhammad Said dikenang sebagai ulama yang tegas menolak kolonialisme melalui sikap keagamaan dan sosial.
Keterlibatannya dalam Fatwa Ciremai menegaskan pesantren sebagai entitas moral yang mandiri, menolak dominasi kolonial dalam urusan agama dan kehidupan umat.
Warisan perjuangan tersebut menjadikan Pesantren Gedongan sejak awal berdiri sebagai bagian dari perjuangan bangsa.








