“Kami belum menerima data detail terkait sebaran wilayahnya. Biasanya surveilans epidemiologi menjadi kewenangan Dinas Kesehatan dan Kementerian Kesehatan,” jelasnya.
Di tengah kekhawatiran masyarakat, Lutfhi juga menekankan pentingnya meluruskan istilah “super flu” yang ramai digunakan.
Menurutnya, istilah tersebut bukanlah terminologi medis resmi. Dalam dunia kedokteran, kondisi tersebut lebih tepat dikategorikan sebagai influenza like illness (ILI), yakni kumpulan gejala flu yang dapat disebabkan oleh berbagai jenis virus.
“ILI ini tidak selalu disebabkan oleh satu virus tertentu. Bisa karena virus influenza, tapi juga bisa dipicu oleh virus lain seperti rhinovirus, parainfluenza, atau jenis virus pernapasan lainnya,” paparnya.
Lebih lanjut, Lutfhi menerangkan bahwa virus influenza sendiri memiliki beberapa tipe utama, di antaranya H1N1 dan H3N2. Di Indonesia, tipe H3N2 justru lebih sering ditemukan dibandingkan tipe lainnya. Adapun subclade K yang saat ini terdeteksi merupakan hasil mutasi dari H3N2.








