Kiai Ahmad menjelaskan bahwa orang yang berpuasa sebenarnya tidak diawasi manusia, tetapi keyakinan bahwa Allah selalu mengawasi membuat seseorang tetap menjaga puasanya.
“Di situlah, letak hakikat takwa sebagai inti dari kewajiban puasa bagi orang-orang mukmin,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ny. Hj. Tho’atillah Ja’far menuturkan bahwa Ramadan menghadirkan kebahagiaan sekaligus tanggung jawab besar bagi seorang ibu.
Ia menilai sistem disiplin di pesantren dapat menjadi contoh bagi keluarga untuk mendampingi anak-anak agar tidak menghabiskan waktu dengan gawai selama Ramadan.
“Bagi saya sebagai seorang ibu, Ramadan itu selalu menghadirkan rasa dagdigdug. Ada rasa bahagia, tapi juga tanggung jawab besar. Setiap tahun muncul perasaan, ‘Ya Allah, saya ingin menjalani puasa Ramadan lagi dan melaksanakannya dengan sempurna,” ujarnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina sekaligus Rektor ISIF, KH. Marzuki Wahid, menegaskan bahwa Ramadan tidak cukup dipahami sebagai ritual semata.








