Ia menyoroti dimensi universal puasa sebagai praktik pengendalian diri yang juga dikenal dalam agama lain.
“Saya sering berpikir, Ramadan jangan hanya dipahami sebatas pendekatan ritual keagamaan. Pertanyaannya, apakah Ramadan yang begitu mulia itu benar-benar kita muliakan, atau justru sebaliknya?,” ucapnya.
Ia menjelaskan bahwa ajaran puasa memiliki dimensi universal karena juga dikenal dalam agama lain. Menurutnya, esensi utama puasa adalah pengendalian diri.
“Ajaran puasa itu sangat luar biasa. Menariknya, puasa ada di semua agama. Dalam Katolik ada puasa 40 hari dengan pengurangan konsumsi, sementara dalam Islam satu bulan penuh. Intinya sama: self control, pengendalian diri,” katanya.
Menurutnya, jika semangat self control dijalankan secara konsisten, dampaknya akan terasa pada kesehatan mental, fisik, spiritual, hingga kehidupan sosial.
Peluncuran buku Peta Jalan Ramadan diharapkan menjadi kontribusi nyata dalam memperkuat literasi keislaman sekaligus mendorong umat memaknai Ramadan sebagai momentum perbaikan diri yang berkelanjutan.








