“Karena ada kelebihan hotmix, pengawas mengarahkan agar dihabiskan dan digelar kembali untuk melapisi jalan yang sudah jadi. Tapi karena hujan, lapisan tambahan itu ambrol,” ungkapnya.
Alasan tersebut justru memperkuat dugaan bahwa baik pelaksana maupun pengawas sama-sama abai terhadap kaidah teknis.
Penambahan hotmix di jalan menurun tanpa perhitungan matang, apalagi dilakukan menjelang hujan, dinilai sebagai kesalahan fatal yang tak bisa ditoleransi dalam proyek infrastruktur publik.
Lebih ironis lagi, Selvi tetap bersikukuh bahwa pekerjaan telah sesuai spesifikasi teknis.
Pernyataan ini dinilai bertolak belakang dengan fakta di lapangan, di mana jalan justru rusak sebelum sempat dimanfaatkan masyarakat secara optimal.
Di sisi lain, Kepala Bidang Bina Marga DPUTR Kabupaten Cirebon, Iwan Santoso, juga mengakui adanya kekeliruan teknis. Ia menyebut, jika volume pekerjaan sudah terpenuhi, kelebihan hotmix seharusnya dibawa pulang, bukan malah ditaburkan kembali.
“Kalau volume sudah memenuhi, kelebihan hotmix jangan ditaburkan lagi. Itu bisa dibawa pulang. Yang terjadi ini jelas kurang hati-hati dan teknisnya tidak tepat,” ujarnya.








