Kepala Desa Cigobang, M. Abdul Zei, mengakui situasi sudah berada di titik rawan. Pemerintah desa, kata dia, telah berupaya meredam emosi warga hampir satu bulan penuh.
“Terus terang kami sudah lelah. Hampir satu bulan menahan warga. Tapi tindak lanjutnya nihil,” ujarnya.
Zei menegaskan, tuntutan warga tidak berubah: sawit harus hilang dari Desa Cigobang.
“Kami berharap pemerintah kabupaten atau DPRD segera turun tangan. Ini harus segera diselesaikan,” tegasnya.
Ia juga memastikan pemerintah desa berdiri di belakang warganya jika muncul tekanan dari pihak perusahaan.
“Kalau ada indikasi intimidasi, kami akan melindungi warga dan melapor,” katanya.
Yang lebih memprihatinkan, menurut Zei, persoalan sawit ini telah berlarut hampir dua tahun meski perizinannya disebut tidak jelas.
“Dari provinsi sudah menyampaikan ini harus segera ditindak karena izinnya tidak jelas. Tapi hasil musyawarah selalu mandek di tengah jalan,” ujarnya.
Dalam berita acara musyawarah desa, lanjut Zei, perusahaan telah menyatakan kesediaan memindahkan sawit tanpa kompensasi.








