Ironisnya, saat kunjungan tersebut, pihak pengelola disebut tidak menyampaikan adanya permintaan ganti rugi. Bahkan, pencabutan dijanjikan akan dilakukan pada 15 Januari.
“Waktu itu tidak ada permintaan ganti rugi. Informasi terakhir, pencabutan akan dilakukan tanggal 15,” kata Abdul Zei.
Bupati Cirebon juga sempat menyatakan kesiapan membantu warga dengan menyediakan bibit tanaman pengganti.
“Sawitnya akan dicabut, dan kami akan membantu menyiapkan bibit pengganti,” ujar Imron beberapa waktu lalu seusai sidak di lokasi.
Kini, janji itu diuji waktu. Sawit belum dicabut, warga diminta membayar, dan pertanyaan soal tanggung jawab kian menguat.
Kekhawatiran warga tak hanya soal biaya, tetapi juga dampak lingkungan jangka panjang.
“Kalau sampai merugikan anak cucu, jangan sampai ada sawit di sini,” kata Juju, warga Cigobang.
Penolakan serupa disuarakan pegiat lingkungan. Hipal Surdiniawan dari Sawala Buana menilai kawasan perbukitan Cigobang semestinya dilindungi, bukan ditanami sawit.
“Ini kawasan mata air. Akan lebih baik jika tetap menjadi hutan, bukan kebun sawit,” ujarnya.








