Target utama yang dimaksud adalah availability factor, yakni tingkat kesiapan pembangkit dalam memproduksi listrik.
“Availability factor tetap bisa kami capai, dan ini menjadi indikator penting bahwa pembangkit tetap andal,” ujar Farid.
Memasuki tahun 2026, Farid menyebut perusahaan akan menghadapi tantangan untuk meningkatkan performa pembangkit agar lebih efisien.
“Untuk 2026 ke depan, tantangannya cukup besar bagi kita semua. Selain mempertahankan availability factor dan produksi listrik, kami juga menghadapi tantangan performa pembangkit,” jelasnya.
Salah satu aspek utama yang menjadi perhatian adalah heat rate, yaitu indikator efisiensi pembangkit dalam mengubah energi bahan bakar menjadi energi listrik.
“Heat rate ini adalah salah satu komponen utama yang harus menjadi pertimbangan bagi seluruh karyawan, karena pembangkit kita harus bisa berjalan secara efektif dan efisien,” tegas Farid.
Melalui Town Hall Meeting 2026 ini, Cirebon Power menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan keandalan, keselamatan, dan efisiensi pembangkit, sekaligus memperkuat peran perusahaan dalam mendukung pasokan listrik nasional.








