Menurutnya, tanpa adanya bendungan, lahan pertanian seluas 75 hektare yang mayoritas ditanami padi akan terus mengalami kekeringan saat musim kemarau.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada penurunan hasil panen, bahkan berisiko gagal panen.
“Kalau tidak dibangun bendungan, setiap kemarau pasti kekeringan. Ini berdampak besar terhadap hasil panen dan ekonomi petani. Jangan sampai gagal panen,” tegas Abdurrosyidin.
Sementara itu, Kuwu Japura Lor, Gufhron, menegaskan bahwa pembangunan bendungan merupakan bagian dari program keberlanjutan pertanian yang masuk dalam visi dan misinya.
Ia menilai, keberadaan dam penampung air sangat penting untuk mendukung keberhasilan panen musim tanam kedua (MT 2) dan musim tanam ketiga (MT 3).
“Setiap tahun saat kemarau, lahan pertanian di Japura Lor mengalami kekeringan. Karena itu, kami mendorong pembangunan dam atau bendungan sebagai penampung air agar panen MT 2 dan MT 3 bisa sukses,” jelasnya.
Gufhron menambahkan, saat ini BBWS Cimanuk–Cisanggarung telah melakukan survei lokasi pembangunan bendungan. Ia berharap realisasi pembangunan dapat dilakukan pada tahun ini atau paling lambat pada 2027 mendatang.








