Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi, Shinta Nuriyah Ajak Warga Cirebon Perkuat Akhlak dan Toleransi

Iklan bawah post

“Saya bangga dengan warga Cirebon yang begitu antusias untuk bersama-sama saling menyapa dan bersilaturahmi,” tuturnya.

Dalam tausiyahnya, Shinta Nuriyah mengingatkan bahwa puasa tidak semata dihitung dari jumlah hari, melainkan dari kualitas ibadah yang dijalankan.

“Puasa tidak dihitung dari hari, melainkan kualitas puasa itu sendiri. Apakah puasa hanya menjadi ibadah tahunan, atau benar-benar karena Allah?” katanya.

Ia menjelaskan, puasa sejatinya mengajarkan nilai-nilai luhur seperti kejujuran, keadilan, kebijaksanaan, serta sikap saling menghormati. Menurutnya, akhlak dan budi pekerti menjadi inti dari ibadah puasa.

“Puasa mengajarkan kejujuran, adil, bijaksana, dan saling hormat-menghormati sesama. Inilah yang harus kita jaga,” tegasnya.

Dalam momen Ramadan tahun ini, Shinta Nuriyah juga menyinggung berbagai musibah yang melanda Indonesia, mulai dari banjir, tanah longsor, kebakaran, hingga berbagai bencana kemanusiaan lainnya.

Ia mengajak seluruh hadirin untuk kembali mengingat pesan Al-Qur’an bahwa setiap bencana mengandung pelajaran.

Iklan dalam post

Pos terkait

Iklan bawah post