Menurutnya, refleksi akhir tahun justru menjadi momentum untuk melakukan koreksi arah.
Ia menyebut, tanpa keberanian melakukan otokritik, gerakan pemekaran berisiko kehilangan legitimasi sosial dari masyarakat yang selama ini menjadi kekuatan utama perjuangan.
“Pemekaran tidak akan pernah terwujud hanya dengan diskusi elite. Jika masyarakat merasa tidak dilibatkan, maka FCTM harus bertanya pada dirinya sendiri: di mana letak kesalahannya,” tegasnya.
Dade menambahkan, ke depan FCTM harus berani melakukan perubahan mendasar, terutama dalam hal manajemen organisasi yang lebih terbuka, partisipatif, dan transparan.
Ia menilai, pengurus FCTM bukanlah pemilik agenda pemekaran, melainkan hanya fasilitator aspirasi rakyat Cirebon Timur.
“Kami ini bukan pemegang mandat kekuasaan, melainkan pelayan kehendak masyarakat. Jika selama ini masih ada jarak dengan warga, maka tugas kami adalah memperkecil jarak itu, bukan membela diri,” tambahnya.
Ia juga memastikan bahwa hasil refleksi akhir tahun akan dijadikan pijakan untuk memperbaiki pola kerja FCTM di tahun mendatang, termasuk memperluas ruang partisipasi warga, membuka kanal komunikasi publik, serta memastikan setiap langkah strategis diketahui dan diawasi masyarakat.








