“Literasi digital adalah fondasi utama untuk memahami teknologi agar kita tidak tersesat. Cara terbaik untuk menguatkannya adalah dengan memperbanyak CABE, yaitu empat pilar literasi digital yang terdiri dari: Cakap digital, Aman digital, Budaya digital, dan Etika digital,” ujar Arifin.
Ia juga menegaskan bahwa tanggung jawab literasi ini tidak boleh hanya dibebankan pada satu pihak. “Ini menjadi tanggung jawab semua pihak—pemerintah, akademisi, hingga sektor swasta—agar kesenjangan digital di masyarakat dapat semakin diminimalisir,” tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Cirebon, Bambang Sudaryanto, yang hadir mewakili Bupati Cirebon, mengingatkan bahwa teknologi AI kini telah menyatu dengan kehidupan sehari-hari.

“Dunia saat ini telah memasuki era kecerdasan artifisial. Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan gawai, tetapi menyangkut cara berpikir kritis dalam menyaring informasi dan bersikap bijak terhadap teknologi,” ungkap Bambang.
Melalui inisiatif ini, Uzone.id berharap mahasiswa dapat menjadi agen perubahan dalam membangun budaya digital yang sehat. Dengan menguasai pilar CABE, generasi muda diharapkan mampu memanfaatkan AI sebagai alat bantu pembelajaran yang inovatif tanpa mengesampingkan etika dan regulasi yang berlaku.








