“Suqmi saya kerja apa saja yang penting halal. Kadang ada kerjaan, kadang tidak ada sama sekali,” katanya.
Kehidupan keluarga ini semakin berat karena anak sulung mereka yang kini berusia 18 tahun mengalami keterbelakangan mental dan membutuhkan perhatian khusus setiap hari.
Dalam kondisi ekonomi yang serba kekurangan, Mulyadi dan istrinya harus membagi tenaga, waktu, dan biaya untuk merawat sang anak.
Sementara anak keduanya yang masih duduk di bangku kelas V Sekolah Dasar tetap membutuhkan biaya pendidikan dan perlengkapan sekolah di tengah kondisi keluarga yang sulit.
“Yang paling saya pikirkan anak pertama saya. Dia harus diperhatikan terus, sementara kami serba terbatas,” ungkapnya.
Di tengah himpitan ekonomi, bantuan dari warga sekitar menjadi penolong bagi keluarga tersebut untuk sekadar bertahan hidup.
Tetangga sesekali membantu makanan ataupun kebutuhan sehari-hari karena merasa prihatin dengan kondisi yang dialami keluarga Mulyadi dan Diana.
Meski hidup dalam kekurangan, Mulyadi dan Diana tetap menyimpan harapan sederhana. Ia ingin keluarganya memiliki rumah yang lebih layak dan aman untuk ditempati, terutama bagi anak-anaknya.






