Poros pertama berasal dari Jawa Tengah yang diisi nama KH. Ahmad Mustofa Bisri dan KH. Ahmad Bahauddin Nursalim. Keduanya dinilai merepresentasikan kekuatan khittah dan spiritualitas murni di tubuh NU.
Taufikurrahman menyebut sosok Gus Mus memiliki posisi moral yang kuat sebagai ulama sepuh yang selama ini dikenal menjaga jarak NU dari kepentingan politik praktis.
Sementara Gus Baha disebut menjadi magnet baru bagi generasi muda Nahdliyin urban karena pendekatan keilmuan yang rasional, tetapi tetap berpijak pada tradisi salaf pesantren.
“Gus Baha dicintai banyak struktur PCNU lintas daerah karena kapasitas keilmuan tafsir dan hadisnya yang kuat,” katanya.
Sementara itu, poros kedua berasal dari Jawa Timur yang disebut sebagai episentrum tradisionalis-institusional NU. Poros ini diisi oleh KH. Miftachul Akhyar dan KH. Asep Saifuddin Chalim.
Menurut Taufikurrahman, Kiai Miftachul Akhyar memiliki basis dukungan kuat dari jaringan pesantren Sidogiri dan Madura.
Sedangkan Kiai Asep Saifuddin Chalim dinilai memiliki daya pengaruh besar melalui jaringan pendidikan dan organisasi Pergunu yang tersebar hingga tingkat desa.





