“Jejaring pendidik NU yang dimiliki Kiai Asep menjadi modal sosial dan organisatoris yang sangat besar,” ujarnya.
Adapun poros ketiga bergerak pada ranah struktural dan nasional dengan menampilkan nama KH. Said Aqil Siradj dan KH. Ma’ruf Amin.
Taufikurrahman menilai Kiai Said Aqil memiliki kapasitas akademik dan spiritual yang langka di lingkungan NU.
Ia menyoroti rekam jejak pendidikan Said Aqil di Universitas Umm al-Qura Makkah hingga reputasinya sebagai ulama tasawuf yang dikenal secara internasional.
“Kiai Said Aqil didukung kalangan loyalis struktural, aktivis Banom, dan kelompok intelektual yang menginginkan NU tetap vokal serta berwawasan global,” katanya.
Sedangkan Kiai Ma’ruf Amin disebut tetap memiliki kharisma nasional dan pengalaman ketatanegaraan yang kuat untuk menjembatani hubungan NU dengan pemerintah.
Selain tiga poros besar di Pulau Jawa, Taufikurrahman juga menyoroti potensi munculnya poros luar Jawa yang menurutnya tidak boleh dipandang sebelah mata.
Sejumlah nama yang disebut berasal dari poros luar Jawa antara lain Tgk. H. Nuruzzahri Yahya, KH. Baharuddin HS, dan KH. Muhammad Wildan Salman.





