Delapan Tahun Bertahan di Rumah Rapuh, Keluarga Mulyadi Menyimpan Harapan di Tengah Kemiskinan

CIREBON – Di sebuah sudut Desa Beringin, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, berdiri sebuah rumah sederhana yang nyaris tak pantas disebut tempat tinggal.

Dindingnya hanya terbuat dari bilik bambu yang mulai lapuk dan berlubang. Atapnya bocor di banyak bagian, sementara lantainya masih berupa tanah yang berubah menjadi lumpur saat hujan turun.

Di rumah itulah Mulyadi (46) bersama istrinya, Diana (36), dan dua anak mereka bertahan hidup selama delapan tahun terakhir. Selasa (12/5/2026).

Bukan kehidupan nyaman yang mereka jalani, melainkan hari-hari panjang penuh perjuangan dan keterbatasan. Saat hujan datang pada malam hari, keluarga kecil itu harus berjaga agar air tidak semakin menggenangi lantai rumah. Ember dan wadah seadanya diletakkan di berbagai sudut untuk menampung tetesan air dari atap yang rusak.

“Kalau hujan bocor semua. Lantainya jadi becek, kadang susah buat tidur,” ucap Diana.

Raut wajahnya tampak menyimpan lelah yang sulit disembunyikan. Sebagai isteri dari seorang Mulyadi yang hanya mengandalkan pekerjaan serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Penghasilan suaminya tidak tetap, bahkan sering kali suaminya pulang tanpa membawa uang karena tidak mendapatkan pekerjaan.

Pos terkait