“Re-ideologisasi dan reorientasi visi perjuangan. Partai harus kembali kepada jatidiri dan nilai-nilai dasarnya. Ideologi bukan sekadar slogan di atas kertas, melainkan kompas moral dalam merumuskan kebijakan publik. Dengan ideologi yang kuat, partai memiliki ruh dan karakter yang membedakannya dari partai lain, sekaligus mengikat loyalitas kader secara tulus,” tandasnya.
Demokratisasi internal dan desentralisasi kewenangan, menurut Gus Habib adalah kekuasaan partai yang harus dikembalikan kepada pemilik kedaulatan yang sesungguhnya seperti anggota dan kader di akar rumput. Mekanisme rekrutmen pengurus, penentuan kebijakan, hingga pencalonan kepala daerah/legislatif harus dilakukan secara transparan, akuntabel, dan berbasis meritokrasi, bukan sekadar kedekatan dengan elite.
“Revitalisasi sistem kaderisasi yang berkelanjutan. Pabrik utama partai politik adalah kaderisasinya. Partai harus membangun sekolah politik yang sistematis dan berjenjang, mulai dari tingkat dasar hingga tingkat pimpinan nasional,” tandasnya.










