Dengan demikian, nilai yang terkandung dalam haul tidak berhenti pada prosesi ziarah dan pengajian, tetapi dapat diteruskan dalam kehidupan bermasyarakat.
Sementara itu, KH. Fahmi Amrullah Hadziq dalam tausiyahnya mengangkat pesan penting mengenai menjaga hubungan dengan keluarga, kerabat, dan sesama.
Dalam kajian At-Tibyan fî Nahyi ‘an Muqatha’atil Arham wal Aqarib wal Ikhwan, Kiai Fahmi mengingatkan bahwa memutus hubungan kekerabatan bukan perkara ringan.
Menurutnya, silaturahmi harus terus dirawat melalui komunikasi dan pertemuan. Ketika hubungan antarsesama mulai renggang, setiap pihak harus memiliki kemauan untuk kembali menyambungkannya.
“Harus lebih banyak nyambung silaturahmi dengan siapa pun,” tuturnya.
Ia juga mengajak masyarakat agar tidak membangun sekat dalam kehidupan sosial. Perbedaan latar belakang maupun pandangan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menciptakan permusuhan.
“Kita itu penting tidak punya musuh. Semuanya harus dijadikan saudara,” ujarnya.
Pesan tersebut dinilai selaras dengan semangat haul yang mengusung ukhuwah. Mengenang para leluhur, menurutnya, semestinya diikuti dengan upaya meneladani nilai-nilai kebaikan yang mereka wariskan.










