Adam menjelaskan, pembentukan satgas berangkat dari keinginan untuk melakukan mitigasi terhadap persoalan yang dinilai berkembang di tengah masyarakat.
Ia menyebut terdapat sejumlah faktor yang menurutnya dapat memengaruhi seseorang hingga terlibat dalam perilaku seksual yang menjadi perhatian satgas, di antaranya lingkungan pergaulan dan persoalan ekonomi.
“Beberapa orang atau perilaku penyimpangan ini awalnya adalah korban. Kemudian ada karena circle atau juga karena ekonomi. Dari latar belakang itulah kita bersepakat dan berkomitmen membentuk Satuan Tugas Pemuda Anti-LGBT,” jelasnya.
Dalam struktur awal, Adam dipercaya sebagai Ketua Satgas. Sementara Agung ditunjuk sebagai koordinator wilayah Kota Cirebon dan Syaerotikhwan sebagai koordinator Kabupaten Cirebon.
Ke depan, Satgas Pemuda Anti-LGBT menargetkan perluasan gerakan ke wilayah Ciayumajakuning, yang meliputi Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan.
Adam juga menyampaikan klaim mengenai jumlah orang yang disebutnya terlibat dalam perilaku LGBT di wilayah Ciayumajakuning mencapai sekitar 15.000 orang. Sementara untuk Kota Cirebon, ia memperkirakan jumlahnya hampir 4.000 orang.










