Sedikitnya sembilan unsur akan dilibatkan dalam gerakan tersebut, mulai dari kiai dan pesantren, keraton, ilmuwan dan cendekiawan, budayawan serta sejarawan, keturunan Sunan Gunung Jati se-Nusantara, pemerintah, tokoh lintas agama dan etnik, pengusaha, hingga masyarakat luas.
Menurutnya, pelibatan berbagai elemen tersebut menjadi langkah awal untuk menjadikan Haul Agung Sunan Gunung Jati sebagai momentum bersama yang memiliki manfaat lebih luas.
“Haul Agung ini diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan tahunan, tetapi menjadi gerakan bersama untuk menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan Sunan Gunung Jati dalam kehidupan masyarakat,” demikian gagasan yang disampaikan tim perumus.
Konsep penyelenggaraan Haul Agung tersebut dirancang melalui tiga tahapan, yakni jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.
Pada tahap jangka pendek, pelaksanaan Haul Agung pada 19 September 2026 diharapkan menjadi pemantik untuk mempertemukan dan menyatukan berbagai elemen masyarakat.
Selanjutnya, dalam jangka menengah, warisan dan wasiat Sunan Gunung Jati diarahkan untuk diterjemahkan ke dalam program dan gerakan nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat.










