Teknik lain dalam perkebunan dengan membuat kanalisasi mengakibatkan lahan gambut yang awalnya menyimpan air menjadi kering. Hal tersebut mengakibatkan bara api yang tersimpan di bawah tanah jadi sulit dipadamkan dan menjadi potensi kebakaran berulang dalam jangka panjang. Penebangan liar yang merusak tutupan vegetasi dan membuat tanah makin kering serta kemarau panjang, membuat risiko kebakaran menjadi berlipat ganda.
Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) juga terjadi di Kawasan Taman nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Periode Oktober Adalah termasuk periode terparah dengan menghanguskan 60 hektar lahan dalam waktu singkat. Untuk mempercepat penanganan, pemerintah mengajukan bantuan operasi udara menggunakan helikopter bom air (water bombing). Selain itu, Gubernur Jawa Barat menyiapkan insentif sebesar Rp250.000 per hari bagi warga lokal yang bersedia dikerahkan secara masif untuk membantu tim pemadam di lapangan.
Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) bukan sekedar bencana alam musiman, melainkan sebuah krisis moral dan kegagalan dalam mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang membakar hutan secara sengaja, mereka telah mengabaikan aspek religiusitas yang mengharuskan manusia menjadi pelindung bagi bumi beserta isinya.










