“Ketika empat desa bergerak bersama, tradisi yang dimiliki masing-masing desa tidak berdiri sendiri. Semuanya bisa menjadi satu rangkaian atraksi budaya yang lebih kuat dan menarik bagi masyarakat maupun wisatawan,” jelasnya.
Dalam penyelenggaraan Festival Tradisi Nadran empat desa tersebut, sedikitnya 750 pelaku seni terlibat dalam berbagai rangkaian kegiatan. Mereka mengisi beragam agenda kesenian, mulai dari tari tradisional, wayang kulit, sandiwara, musik tradisional, hingga karnaval ogoh-ogoh.
Hasan mengatakan, keterlibatan ratusan pelaku seni tersebut menunjukkan bahwa tradisi Nadran tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga mampu membuka ruang ekonomi bagi masyarakat yang terlibat di dalamnya.
“Ketika sebuah tradisi mampu menghidupkan seniman, pelaku UMKM, pedagang, pelaku kuliner, hingga masyarakat sekitar, maka budaya bukan hanya menjadi identitas, tetapi juga menjadi kekuatan ekonomi,” ungkapnya.
Ia memproyeksikan Festival Tradisi Nadran empat desa dapat menciptakan multiplier effect ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Selama festival berlangsung selama satu bulan, kehadiran masyarakat dan pengunjung akan menciptakan ruang baru bagi pelaku UMKM untuk menawarkan berbagai produk dan jasa.










