Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang datang untuk menyaksikan rangkaian Nadran, semakin besar pula potensi perputaran ekonomi yang tercipta. Pedagang makanan, pelaku UMKM, seniman, hingga sektor jasa dapat memperoleh manfaat langsung dari aktivitas tersebut.
“Harapannya bukan hanya acaranya yang ramai, tetapi ekonomi masyarakat juga ikut bergerak. Ketika orang datang menyaksikan tradisi Nadran, mereka makan, membeli produk UMKM, menggunakan jasa masyarakat, dan beraktivitas di sekitar lokasi. Dari situlah multiplier effect ekonomi bisa muncul,” kata Hasan.
Melalui kolaborasi Festival Tradisi Nadran empat desa, Kabupaten Cirebon diharapkan mampu membangun model pengembangan wisata budaya yang berangkat dari tradisi masyarakat sendiri. Nadran tidak hanya dipertahankan sebagai warisan leluhur, tetapi juga dikembangkan sebagai atraksi budaya yang mampu memperkuat identitas pesisir sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.










