Oleh: Saifur Rohman (Mahasiswa UIN SSC)
Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) Indonesia tahun 2026 adalah serangkaian peristiwa kebakaran hutan dan lahan terburuk yang pernah terjadi di Indonesia. Meski bukan terparah, namun dampak emisi karbon terhitung semenjak 11 tahun terakhir Adalah termasuk salah satu yang terburuk dalam Sejarah. Data dari Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) Uni Eropa menunjukkan bahwa emisi karbon dari kebakaran hutan di Indonesia tahun 2026 adalah salah satu yang tertinggi dalam 24 tahun terakhir.
Hingga Oktober 2026, emisi telah menembus 180 juta ton karbon (jauh melampaui rata-rata historis tahunan normal yang berkisar di angka 75–80 juta ton karbon). Mengapa ini terjadi? Karena porsi lahan yang terbakar didominasi oleh lahan gambut dalam yang melepaskan kepulan asap pekat beracun jarak jauh secara masif ke atmosfer.
Dari berbagai analisa lapangan, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) Indonesia tahun 2026 terjadi akibat fenomena El Nino yang sangat kuat. Selain itu Pembukaan hutan besar-besaran untuk kepentingan perkebunan dan pertambangan diperkirakan menjadikan lahan menjadi sangat kering dan mudah terbakar. Teknik membuka lahan dengan membakar ini sering dianggap sebagai yang paling efisien, namun realitasnya menyebabkan kerugian ekonomi dan lingkungan paling besar.










