Senada dengan itu, anggota DEN, Muhammad Kholid Syeirazi, menilai Cirebon Power telah menunjukkan praktik terbaik dalam pengelolaan pembangkit berbasis batu bara yang tetap berkomitmen terhadap agenda dekarbonisasi.
“Saya mengapresiasi kinerja PLTU ultra super critical yang sangat maju dalam penerapan teknologi rendah karbon. Meskipun menggunakan batu bara, teknologi USC mampu memberikan pengurangan emisi yang signifikan,” ujarnya.
Kholid menyebut Cirebon Power juga memiliki peran strategis sebagai salah satu penopang keandalan sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali (Jamali). Selain itu, penerapan standar keberlanjutan lingkungan di perusahaan tersebut dinilai berjalan dengan baik.
“Tadi kami mendapatkan informasi mengenai penanaman hampir 200 ribu mangrove yang dilakukan Cirebon Power. Program CSR juga dilaksanakan dengan sangat baik. Saya kira ini salah satu role model PLTU dan pembangkit listrik secara umum yang bisa dijadikan barometer,” katanya.
Menurut Kholid, Indonesia saat ini masih membutuhkan PLTU sebagai pembangkit beban dasar (base load) untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan. Namun demikian, ia menegaskan pentingnya komitmen perusahaan dalam menjalankan agenda dekarbonisasi melalui penerapan teknologi yang mampu menekan emisi.










