Oleh Fathan Mubarak
TERASWARGA – Suma Oriental yang ditulis Tomé Pires membedakan dengan jelas wilayah Sunda dan Jawa. Sungai Cimanuk menjadi garis demarkasi. Sebelah barat terbentang tatar Sunda dengan bandar-bandar seperti Banten, Pontang, Tangerang, Kalapa, hingga Cimanuk. Sementara di sebelah timur—yang diidentifikasi sebagai Jawa, Pires pertama-tama menyebut Cherimon atau Cirebon. Catatan ini menunjukkan bahwa pada awal abad keenam belas, Sunda dan Jawa telah dikenali sebagai dua ruang politik dan kebudayaan yang berbeda.
Sebelum kedatangan Portugis, nama Sunda telah muncul dalam berbagai naskah. Sanghyang Siksakandang Karesian terjemahan Saleh Danasasmita dkk. memperlihatkan sebuah masyarakat dengan pengetahuan dan etika yang mapan. Tergambar sebuah pandangan hidup yang mengatur hubungan dengan manusia, dengan alam, dan dengan kekuasaan. Beberapa dasawarsa kemudian, Carita Parahyangan merekam silih bergantinya raja-raja Sunda dan Galuh sejak masa awal hingga runtuhnya Pajajaran. Naskah ini memuat silsilah para penguasa dan mengisahkan perang serta pergantian kekuasaan. Menjadi jelas bahwa selain ruang budaya, Sunda juga merupakan pengalaman politik yang berlangsung selama berabad-abad.










