Hal tersebut memunculkan kekhawatiran keluarga terkait keamanan barang bukti serta perlindungan terhadap korban selama proses penyidikan berlangsung.
Sebelumnya, keluarga korban juga sempat mendatangi pihak terduga pelaku dengan harapan agar foto atau video korban tidak disebarluaskan.
Namun, tekanan dan ancaman yang terus berlanjut membuat korban akhirnya membuka diri kepada orang tuanya.
Sejak kejadian tersebut, kondisi psikologis korban dilaporkan mengalami perubahan signifikan.
Korban menjadi lebih tertutup, sering mengisolasi diri, dan enggan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Keluarga juga menyoroti dugaan adanya rasa percaya diri berlebih dari terduga pelaku saat melancarkan ancaman, yang disebut-sebut berkaitan dengan latar belakang keluarganya.
Hal ini menambah kekhawatiran keluarga terkait objektivitas penanganan kasus.
“Kami hanya ingin keadilan ditegakkan dan anak kami mendapatkan perlindungan yang layak,” tegas pihak keluarga.
Keluarga berharap aparat kepolisian dapat mengusut tuntas perkara ini secara transparan dan profesional, sekaligus memastikan korban mendapatkan pendampingan hukum dan psikologis.








