Menurutnya, keberhasilan budidaya melon mampu menarik perhatian berbagai kalangan, mulai dari jajaran kepolisian, mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, hingga tokoh pemerintahan yang datang untuk melihat langsung pengelolaannya.
“BUMDes mampu membuktikan bahwa desa juga bisa menjadi pusat inovasi pertanian,” katanya.
Puncak keberhasilan tersebut terlihat ketika panen raya melon beberapa waktu lalu mendapat kunjungan Gubernur Jawa Barat. Sejak saat itu, Desa Ciawijapura semakin dikenal sebagai “Desa Melon”, sekaligus menjadi ikon baru di wilayah Kecamatan Susukanlebak.
“Melon telah menjadi identitas sekaligus kebanggaan masyarakat Desa Ciawijapura,” ungkapnya.
Popularitas Algha sebagai petani milenial pun membuatnya dijuluki “Si Pria Melon”. Tidak sedikit pemerintah desa, pengelola BUMDes, hingga pelaku usaha pertanian dari berbagai daerah datang untuk belajar dan berkonsultasi mengenai teknik budidaya melon.
Bahkan, sejumlah tamu berasal dari luar daerah seperti Nusa Tenggara Barat (NTB), Cikampek, hingga berbagai desa yang ingin mengembangkan usaha serupa melalui BUMDes.










