Di tengah situasi tersebut, lanjut dia, jaringan ulama dan santri ikut mengambil bagian dalam mempertahankan kemerdekaan.
“Almarhum KH Abbas memiliki peran dalam menentukan momentum serangan pada 10 November 1945,”ucapnya.
Ia menjelaskan, pada 6 November 1945 lalu, KH Abbas menggelar musyawarah bersama keluarga, para kiai dan santrinya untuk menentukan pemimpin ulama dan santri yang akan terlibat dalam perjuangan di Surabaya.
KH Abbas kemudian berangkat bersama putranya, KH Abdullah Abbas, dan para santri menuju Tebuireng, Jombang.
Melalui rangkaian peristiwa tersebut, KH Abbas disebut memberikan arahan agar serangan dilakukan pada pagi 10 November 1945.
“KH Abbas mengatakan, besok subuh harus kita serang. Artinya besok subuh itu 10 November 1945,” kata Usep.
Menurut dia, keputusan tersebut memiliki arti strategis karena pasukan perjuangan bergerak ke pusat Kota Surabaya, sementara kekuatan lain ditempatkan di sejumlah wilayah pinggiran.
Prof Usep menilai kemampuan membaca situasi dan strategi lawan menjadi salah satu aspek penting dalam melihat kontribusi KH Abbas dalam pertempuran tersebut.










