“Kalau musuh yang mengatakan, kan kuat. Berbeda kalau yang di dalam,” katanya.
Dokumen lain juga disebut mencatat aktivitas Tarekat Tijaniyah yang dipimpin KH Abbas dan penyebarannya di tengah masyarakat.
Jejak tersebut menjadi bagian dari bukti bahwa perjuangan KH Abbas tidak baru dimulai ketika perang mempertahankan kemerdekaan pecah pada 1945.
Pesantren, NU, dan Jaringan Perjuangan
Perjuangan KH Abbas juga tidak terlepas dari jaringan pesantren dan organisasi keagamaan.
Menurut Usep, KH Abbas memanfaatkan jaringan pesantren, ulama dan Nahdlatul Ulama untuk membangun kader serta mempertahankan semangat perjuangan.
Pada masa pendudukan Jepang, KH Abbas tercatat pernah berada dalam sejumlah lembaga bentukan pemerintahan pendudukan. Namun, menurut Usep, keberadaan tersebut perlu dibaca dalam konteks strategi perjuangan pada masa itu.
Pada saat yang sama, KH Abbas juga terlibat dalam jaringan perjuangan bersenjata, termasuk Hizbullah dan Sabilillah.
Ia juga disebut memiliki keterlibatan dalam Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) sebagai bagian dari jaringan ulama Jawa Barat.










