Bagi peserta, pengalaman di Batulawang memberikan gambaran bahwa vertical rescue bukan sekadar persoalan kemampuan fisik untuk berada di ketinggian. Ada teknik, komunikasi, koordinasi, kedisiplinan, ketelitian, dan kemampuan menjaga keselamatan yang harus dipahami secara bersama.
Kehadiran instruktur dari Vertical Rescue Indonesia menjadi salah satu bagian penting dalam proses tersebut. Peserta mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung dari tenaga ahli dan mencoba menerapkan pengetahuan yang diperoleh melalui kondisi medan yang nyata.
Salah satu peserta yang datang dari luar Indonesia adalah Zahir, peserta asal Singapura. Baginya, keikutsertaan dalam Sekolah Vertical Rescue Angkatan 298 menjadi pengalaman yang mempertemukan dirinya dengan komunitas pecinta alam dari berbagai daerah.
“Saya senang bisa mengikuti kegiatan ini dan bertemu dengan peserta dari berbagai daerah. Selain mendapatkan pengalaman mengenai vertical rescue, saya juga mendapatkan kesempatan untuk mengenal teman-teman baru dan melihat bagaimana komunitas pecinta alam di Indonesia menjalankan kegiatan mereka,” ujar Zahir.










