“Hampir seabad lalu, para pemuda Indonesia dari berbagai latar belakang suku, bahasa, dan golongan berkumpul mengucapkan ikrar suci satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan, Indonesia. Mereka bersatu untuk mendobrak sekat-sekat perbedaan demi satu tujuan besar, kemerdekaan dan kedaulatan bangsa,” katanya, Rabu (28/10/2026).
Dikatakan pria yang akrab disapa Gus Habib tersebut, realitas di Lapangan, hari ini, para pelajar di Cirebon memang sudah “bersatu” dalam satu ruang maya, tetapi bukan sebagai bangsa yang berdaulat atas teknologi, melainkan sekadar konsumen pasif. Jempol begitu cekatan menggulir lini masa TikTok, jari cepat membalas pesan, dan aneka ragam hiburan digital dikuasai dalam hitungan detik.
“Teguran Keras, Jika gawai di tangan hanya menghabiskan kuota tanpa menghasilkan karya, menambah ilmu, atau melatih keterampilan, di mana letak semangat Sumpah Pemuda?. Sumpah Pemuda mengajarkan kita untuk menguasai keadaan, bukan dijajah oleh algoritma kesenangan semu,” katanya










