“”Ego Silo” vs ikrar persatuan merawat identitas diruang digital,” katanya.
Lebih lanjut Gus Habib juga mengatakan, kekayaan budaya Cirebon mulai dari batik Trusmi, naskah kuno kesultanan, hingga kearifan para ulama nusantara sebenarnya adalah tambang emas konten dan riset digital. Sayangnya, ikrar persatuan kebangsaan sering kali luntur ketika kita dihadapkan pada gempuran budaya luar.
“Realitas di Lapangan, Kita lebih gemar meniru tren luar yang nir faedah ketimbang menggali potensi lokal dan membungkusnya dengan kreativitas digital modern. Akibatnya, identitas kultural kita tergerus oleh arus globalisasi yang hambar,” katanya.
Lebih lanjut Gus Habib mengatakan, teguran Keras, Anak Cirebon tidak boleh menjadi asing di tanah kelahirannya sendiri. Jiwa Sumpah Pemuda seharusnya mendorong kita untuk menggunakan teknologi sebagai alat pemersatu dan pengangkat harkat budaya lokal ke kancah global, bukan malah membuat kita tercerabut dari akar identitas bangsa.
“Bangkit, pelajar cirebon warisi api sumpah pemuda, bukan abunya. Digitalisasi di lapangan tidak akan pernah berhasil jika manusianya terutama generasi muda dan pelajar—tidak mengubah mentalitas. Semangat Sumpah Pemuda hari ini harus diterjemahkan ulang ke dalam medan juang digital,” tandasnya










