Ketua Umum Ikatan dan Alumni Santri Assalafie (IKTASA), H. Sholihin, mengatakan peluncuran trilogi tersebut memiliki arti penting bagi keluarga besar Assalafie, khususnya para alumni yang pernah mendapatkan pendidikan dan keteladanan dari Mama KH. Syaerozie.
Menurutnya, sosok seorang kiai tidak hanya dikenang melalui perjalanan hidupnya, tetapi juga melalui ilmu, nilai, dan keteladanan yang diwariskan kepada para santri.
“Buku-buku ini menjadi bagian dari ikhtiar kita untuk menjaga sejarah dan keteladanan Mama KH. Syaerozie agar tidak berhenti sebagai cerita dari generasi sebelumnya. Apa yang beliau tanamkan kepada para santri perlu terus dikenalkan kepada generasi berikutnya,” ujar H. Sholihin.
Ia menilai, buku Guru yang Tak Pernah Pergi memiliki nilai tersendiri karena menghadirkan kesaksian langsung dari para alumni. Beragam pengalaman tersebut menjadi gambaran bagaimana sosok Mama KH. Syaerozie hadir dalam kehidupan para santrinya.
“Kesaksian para alumni menunjukkan bahwa hubungan seorang guru dengan muridnya tidak berhenti ketika proses belajar di pesantren selesai. Nilai-nilai yang diberikan seorang guru dapat terus hidup dan memengaruhi perjalanan muridnya,” katanya.










