H. Sholihin menambahkan, dokumentasi sejarah pesantren melalui buku menjadi langkah penting dalam menjaga warisan intelektual dan tradisi keilmuan pesantren.
“Kalau sejarah tidak ditulis, lama-kelamaan akan banyak bagian yang hilang dari ingatan. Karena itu, menulis perjalanan para masyayikh dan pesantren merupakan bentuk tanggung jawab kita kepada generasi yang akan datang,” tuturnya.
Peluncuran tiga buku tersebut secara resmi dilakukan oleh anggota Dewan Keluarga Assalafie, Dr. KH. Arwani Syaerozi, Lc., MA. Dalam sambutannya, Abah Wawan, sapaan akrab KH. Arwani, menyampaikan bahwa ketiga buku tersebut diharapkan dapat menjadi sumber bagi masyarakat yang ingin mengenal lebih dekat sosok Mama KH. Syaerozie Abdurrohim.
Peluncuran trilogi ini juga mendapat perhatian dari para santri dan alumni yang hadir dalam rangkaian haul. Kehadiran karya-karya tersebut menjadi sarana untuk mempertemukan kembali ingatan kolektif tentang perjuangan dan keteladanan pendiri Pondok Pesantren Assalafie.
Bagi H. Sholihin, warisan Mama KH. Syaerozie tidak semata-mata berupa lembaga pendidikan, tetapi juga nilai-nilai yang ditanamkan kepada para santri.










