“Warisan terbesar seorang guru adalah ilmu dan akhlak yang hidup dalam diri murid-muridnya. Karena itu, tugas kita sebagai alumni adalah menjaga, mengamalkan, dan meneruskan nilai-nilai tersebut,” ungkapnya.
Ia berharap ketiga buku tersebut dapat dibaca secara luas, terutama oleh santri dan generasi muda Assalafie, sehingga mereka dapat mengenal lebih dekat sosok pendiri pesantren sekaligus mengambil pelajaran dari perjalanan hidupnya.
Dengan diluncurkannya Trilogi Mama KH. Syaerozie Abdurrohim Babakan Ciwaringin, sejarah, pemikiran, dan kesaksian tentang sosok Mama KH. Syaerozie kini tidak hanya tersimpan dalam ingatan keluarga, santri, dan alumni, tetapi juga terdokumentasi dalam karya yang dapat diwariskan kepada generasi selanjutnya.
Dari Babakan, kisah tentang seorang guru kembali dituliskan. Bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi untuk menjaga agar ilmu, perjuangan, dan keteladanan Mama KH. Syaerozie Abdurrohim tetap menjadi cahaya bagi generasi yang akan datang.










