Menurutnya, kerusakan yang awalnya hanya berupa jebolnya tanggul kini berkembang menjadi persoalan yang lebih kompleks.
Selain menyebabkan luapan air saat musim hujan, kondisi tersebut juga mengakibatkan terganggunya saluran irigasi dan akses jalan masyarakat.
Lukman menjelaskan, dampak kerusakan Sungai Cimanis sangat besar terhadap sektor pertanian.
Sedikitnya sekitar 350 hektare lahan pertanian terdampak akibat terganggunya sistem pengairan yang selama ini menjadi penopang aktivitas petani.
“Dampaknya bukan hanya banjir, tetapi juga merugikan petani hortikultura, palawija, dan sektor pertanian lainnya,” katanya.
Ia menegaskan DPRD Kabupaten Cirebon akan terus berkoordinasi dengan pemerintah desa, kecamatan, serta BBWS Cimanuk-Cisanggarung untuk mempercepat realisasi penanganan permanen.
Selain itu, DPRD juga berencana mendorong dukungan dari DPR RI agar kebutuhan anggaran dapat dipenuhi.
“Kami ingin penanganannya benar-benar serius dan permanen, bukan sekadar perbaikan darurat yang terus berulang,” tegasnya.










