“Karena kita kemarin itu agak kesulitan pembiayaan dari perbankan, dari KUR-nya, sehingga para petani ini agak mundur melakukan garapan-garapannya karena faktor biaya tadi,” katanya.
Persoalan lain yang dihadapi petani yakni tingginya harga pupuk nonsubsidi. Meski pupuk ZA masih mendapatkan subsidi, jumlahnya dinilai belum mencukupi kebutuhan petani tebu.
“ZA pun ada subsidi cuma jumlahnya cukup kecil sehingga masih kurang, kita harus membeli pupuk non-subsidi,” ucapnya.
Menurut Mulyadi, kenaikan harga pupuk nonsubsidi saat ini cukup membebani petani karena berdampak langsung terhadap meningkatnya biaya produksi.
“Harga pupuk non-subsidi saat ini sudah cukup melambung,” jelasnya.
Tak hanya persoalan modal dan pupuk, petani juga menghadapi ancaman serangan hama yang muncul di luar prediksi.
Hama tersebut mulai ditemukan di sejumlah area lahan tebu wilayah Tersana Baru.
“Tahun ini juga muncul hama ya. Hama-hama yang memang itu di luar dugaan kita,” katanya.
Mulyadi menjelaskan, area tebu binaan APTRI Tersana Baru tersebar di tiga wilayah, yakni Kabupaten Cirebon sekitar 1.900 hektar, Brebes 610 hektar, dan Kuningan sekitar 150 hektar.










