Dari proses tersebut, Naela mengajukan pinjaman sebesar Rp8 juta. Namun dana yang diterima disebut hanya sekitar Rp7,7 juta setelah dipotong berbagai biaya administrasi.
Sejak saat itu, ia rutin membayar cicilan sekitar Rp500 ribu per bulan. Bahkan ketika mengalami kesulitan ekonomi dan sempat menunggak beberapa bulan, Naela mengaku tetap membayar bunga pinjaman sebagai bentuk itikad baik.
“Saya memang pernah telat, tapi setiap bulan tetap setor bunga sekitar Rp200 ribuan. Saya tidak pernah menghilang dan selalu berusaha mencari solusi,” katanya.
Yang membuatnya semakin kecewa, kata Naela, adalah perubahan informasi yang terus terjadi. Awalnya ia mengaku mendapat kesepakatan tertulis bahwa kendaraan dapat ditebus dengan pembayaran sekitar Rp7 juta di bulan depan. Namun belakangan nominal tersebut berubah menjadi Rp8,2 juta dengan tenggat waktu yang berbeda.
“Kesepakatan awal ada tulisan tangan. Saya diminta menyiapkan Rp7 juta. Meskipun berat, Tapi saya usahakan. Dan tiba-tiba berubah lagi. Saya merasa dipermainkan karena aturan dan angkanya terus berubah,” ujarnya.










