Dalam satu kali pengerokan yang dilakukan setiap dua hari, satu petak tambak mampu menghasilkan sekitar empat hingga lima karung garam. Sementara dalam satu musim kemarau, produksi dari satu lahan dapat mencapai sekitar 80 hingga 90 ton, bergantung pada kondisi cuaca.
Meski hasil produksi cukup melimpah, rendahnya harga jual membuat pendapatan petani tidak sebanding dengan biaya produksi yang telah dikeluarkan.
Para petani berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga garam di tingkat petambak. Salah satu usulan yang disampaikan adalah penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) atau mekanisme perlindungan harga seperti yang diterapkan pada sejumlah komoditas pangan lainnya.
“Kami berharap pemerintah menetapkan HET atau kebijakan yang bisa menjaga harga garam agar tidak jatuh saat panen raya. Dengan begitu petani tidak terus dirugikan,” kata Warno.
Selain menjaga harga, petani juga meminta pemerintah memperkuat penyerapan garam lokal melalui industri maupun lembaga yang ditunjuk pemerintah. Langkah tersebut dinilai penting agar hasil panen tidak menumpuk di tingkat petani dan roda perekonomian petambak tetap berjalan.










