Cirebon, dalam seluruh kerumitannya, tidak terjelaskan hanya oleh pertemuan Sunda dan Jawa. Di dalamnya terdapat lapisan sejarah yang lebih panjang. Satu tempat dapat menyimpan lebih dari satu ingatan, sebagaimana satu tradisi dapat membawa lebih dari satu asal-usul. Cirebon lebih menyerupai palimpsest: sesuatu yang terus ditulisi, tapi tulisan lama tidak pernah benar-benar hilang. Sulit memperlakukan Cirebon sebagai garis lurus dari masa lalu menuju identitas yang sekarang. Kekhasannya terbuat dari tumpukan-tumpukan pengalaman yang terus ditafsirkan ulang oleh orang-orang yang hidup di dalamnya.
Kekhasan Cirebon tidak semata-mata dinisbahkan pada keberadaan keraton, bahasa, ritus, atau tradisi seni, melainkan pada keseluruhan pengalaman sejarah yang membentuknya. Merujuk pada kajian geografi humanistik, terutama konsep topophilia, kekhasan tersebut mencakup juga bagaimana manusia membangun keterikatannya dengan sebuah tempat—bahkan dengan apa yang dalam diskursus fenomenologi disebut lebenswelt: ruang hidup.










