Paul Ricoeur membantu melihat persoalan dari sisi lain. Filsuf yang pernah menjadi tahanan perang pada PD II ini menunjukkan bahwa ingatan terus bekerja dalam cara manusia memahami diri dan dunia yang ditempatinya. Ingatan selalu berhadapan dengan sejarah: apa yang dipelihara, apa yang ditafsirkan kembali, dan apa yang akhirnya dilupakan. Dalam pemerintahan politik modern, sejarah selalu terhubung dengan hukum dan pemerintahan. Sejarah memberi alasan mengapa Cirebon berbeda. Hukum menentukan bagaimana perbedaan itu dapat diakui. Dan demokrasi memastikan pengakuan tersebut tetap berpihak kepada masyarakat yang hidup di dalamnya.
Kekhasan Cirebon dengan demikian, mengarah pada urusan-urusan yang tidak dapat sepenuhnya dibaca dari meja pemerintahan provinsi apalagi pusat. Pada tahun 60-an, misalnya, pelajaran bahasa daerah di sekolah-sekolah Cirebon-Indramayu mengacu pada sebuah buku pelajaran bahasa asing: Jawa Solo. Yang mengajar bingung. Yang diajar lebih bingung. Buku acuan lalu diganti dengan buku bahasa asing lainnya: bahasa Sunda. Yang mengajar dan diajar pun kelimpungan bareng di kelas. Sampai saat keduanya terganti oleh Bahasa Jawa dialek Cirebon, lalu (dalam tanda petik) benar-benar basa Cerbon.










