Saya orang yang tidak begitu percaya dengan gagasan melting pot yang pada awal 2000-an mulai dikampanyekan budayawan Nurdin M. Noer. Konsep yang populer sejak pementasan drama Israel Zangwill ini merujuk pada percampuran berbagai unsur kebudayaan yang datang dari latar berbeda. Sesekali Cirebon memang serupa itu. Tapi Cirebon juga sekaligus mirip apa yang dalam konsep bandingannya disebut salad bowl: berbagai unsur budaya bertemu, saling bersentuhan, tetapi tidak kehilangan seluruh pembedanya. Sebaran toponimi di Cirebon menjadi indikator bagus: Pekalangan untuk orang-orang Kalang, Pecinan untuk orang-orang Cina, Panjunan untuk orang-orang Arab, Pekiringan untuk para perajin tembaga, dan seterusnya dan seterusnya.
Cirebon bukan hasil dari satu proses peleburan yang selesai. Cirebon lebih tepat dibaca sebagai sebuah proses dimana percampuran dan perbedaan terus bekerja bersamaan. Hampir mustahil menemukan aktor tunggal yang sepenuhnya menentukan arah perkembangan kebudayaan di Cirebon. Tidak ada yang bergerak sendirian. Bahkan di sekitar Sunan Gunung Jati terdapat jejaring kekuasaan, keluarga, ulama, saudagar, pelabuhan, keraton, dan masyarakat yang ikut membentuk Cirebon. Keruwetan relasional itulah yang membuat Cirebon menjadi Cirebon.










