Kini, Iduy belum genap setahun menempati ruko di kawasan Alun-alun Lemahabang. Meski masih tergolong baru di lokasi tersebut, ia berusaha menjadikan tempat itu bukan sekadar ruang berjualan, melainkan tempat bagi masyarakat untuk mengenal berbagai benda seni dan antik.
Dari Batu Biasa Menjadi Karya Bernilai
Salah satu bagian yang paling melekat dalam perjalanan Iduy adalah batu akik. Ia masih mengingat masa ketika batu akik begitu populer dan menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Saat itu, hampir setiap lapisan masyarakat tertarik mencari batu dengan motif dan karakter tertentu.
Bagi Iduy, masa tersebut bukan sekadar cerita tentang tren, tetapi juga menjadi salah satu periode ketika dirinya merasakan hasil dari ketekunan yang selama bertahun-tahun dijalani.
Batu yang awalnya hanya berupa bongkahan kemudian dipilih, dipoles dan diolah hingga menjadi batu cincin dengan nilai seni tersendiri.
“Zaman batu akik ramai, saya benar-benar merasakan berkahnya. Dari batu yang masih bahan sampai dipoles menjadi cincin, banyak yang mencari,” ungkapnya.










