Bagi Iduy, dunia seni memiliki nilai yang lebih panjang daripada sekadar mengikuti tren.
Sebuah keris, guci lama, batu akik maupun benda antik lainnya tidak hanya dilihat dari bentuknya. Ada cerita, proses dan karakter yang membuat benda tersebut memiliki daya tarik tersendiri.
Karena itu, meski dunia digital dan pola konsumsi masyarakat terus berubah, Iduy tetap memilih menjaga ruang kecilnya untuk seni.
Tetap Berkarya, Tetap Bersosial
Menariknya, aktivitas Iduy tidak berhenti di balik etalase tokonya.
Di luar aktivitas sebagai pelaku UMKM, ia juga aktif dalam organisasi kepemudaan dan lembaga sosial. Sebagai tokoh masyarakat, ia turut mengikuti berbagai persoalan sosial yang berkembang di lingkungan sekitarnya.
Bagi Iduy, berkarya dan memberikan manfaat kepada masyarakat merupakan dua hal yang tidak perlu dipisahkan.
“Selain usaha, saya juga punya kegiatan di organisasi kepemudaan dan lembaga sosial. Saya ingin tetap berkarya sekaligus bisa bermanfaat untuk masyarakat,” tuturnya.
Perjalanan Iduy menunjukkan bahwa mempertahankan sebuah usaha bukan hanya tentang bertahan dari persaingan, tetapi juga tentang menjaga kecintaan terhadap sesuatu yang telah diyakini selama bertahun-tahun.










