CIREBON,- Cirebon adalah tanah para wali sebuah kota yang kaya akan warisan tradisi, napas spiritualitas yang luhur, dan ketangguhan budaya yang diwariskan turun-temurun. Namun, di balik megahnya sejarah peradaban agung ini, kita sering kali terjebak dalam zona nyaman romantisme masa lalu.
Kita bangga bernarasi tentang masa lampau, tetapi kerap tertidur lelap ketika roda zaman berputar kencang ke era digital. Hari ini, hampir semua institusi pendidikan di Cirebon dari bangku sekolah menengah hingga lingkungan pesantren berlomba-lomba memamerkan label “sekolah digital”.
Ada baliho penerimaan siswa baru terpampang megah, brosur warna-warni menjanjikan aplikasi pembelajaran pintar, hingga ruang komputer ber AC yang tertata rapi. Namun, mari kita jujur menengok realitas di lapangan: lemahnya digitalisasi dalam praktik sering kali membuat kita tertinggal dalam ilusi kemajuan yang semu.
Pimpinan Pondok Pesantren Akmala Sabila, Talun, Dr. Muhamad Habib Khaerussani, M.Pd mengatakan lebih dari itu, situasi ini terasa sangat ironis jika ditarik kembali pada esensi Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda, Dulu Menyatukan Bahasa, Kini Menjebak Kita dalam “Konsumen Digital”.










